Industri e-Sports Terhambat Karena Orang Tua
CEO of RRQ e-Sports mengatakan industri eSports atau olahraga elektronik ‘sedikit’ terhambat untuk berkembang karena kurangnya sosialisasi. Para orang tua banyak yang menganggap game sebagai pengaruh yang buruk.CEO of RRQ e-Sports, Andrian Pauline mengatakan industri eSport atau olahraga elektronik 'sedikit' terhambat untuk berkembang karena kurangnya sosialisasi. Para orangtua banyak yang menganggap game sebagai pengaruh yang buruk, sehingga persepsi dan stigma itu harus diubah.
Berbeda dengan gamer, menurutnya, pro player atau atlet eSport memiliki cara bermain yang 'rapi'. Mereka hanya akan berlatih selama enam sampai delapan jam dalam sehari layaknya seseorang yang mematuhi jam kerja. Atlet juga melakukan olahraga fisik, minimal tiga kali dalam seminggu.
Beberapa orang bahkan masih belum tahu jika para atlet bisa mendapat penghasilan yang cukup besar karena bermain game. Andrian mengatakan, pelaku industri seperti event organizer dari sebuah merek, seharusnya melakukan sosialisasi yang lebih masif, terutama untuk orangtua agar industri eSport dapat berkembang.
Andrian juga mengatakan bahwa saat ini bermain game juga berpeluang mendapat pekerjaan yang lebih luas. Gamer tidak hanya sekadar menjadi atlet, namun juga berkesempatan menjadi manajer, pelatih analisis, komentator,host, panelis,reviewer bahkan YouTuber.
Di sisi lain, President of Indonesia eSport Association (IeSPA), Eddy Lim, cukup merasa bangga karena pada 2003 atlet eSport Indonesia masuk tujuh teratas kategori dunia. Kemudian olahraga elektronik di Tanah Air juga sudah mendapat pengakuan dari pemerintah.
Sumber : viva.co
Foto : http://p2tp2a-malangkab.org

Comments
Post a Comment